Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

HARI KEENAMBELAS

Hari ini, aku memilih untuk berhenti menuliskan tentangmu. Bukan karena rasanya sudah hilang. Tapi karena aku mulai sadar, tidak semua rasa harus diabadikan dalam kata-kata. Ada yang cukup disimpan, dirasakan, dan dijaga diam-diam di dalam hati. Iya… mungkin benar, cinta tidak selalu harus dituliskan. Kadang cukup dirasakan, tanpa perlu semua orang tahu seberapa dalam ia tumbuh. Ini bukan akhir dari rasa sayangku. Bukan juga akhir dari doa-doaku untukmu. Hanya saja, aku memilih untuk tidak lagi menceritakannya di sini. Aku ingin belajar mencintai dengan lebih tenang. Tanpa harus selalu dituangkan. Tanpa harus selalu dibuktikan dengan kata. Karena mungkin, ada hal-hal yang akan terasa lebih tulus ketika tidak diumbar, dan lebih berarti ketika hanya menjadi rahasia antara hati dan Tuhan. Aku sekarang lebih tenang, lebih memilih memasrahkannya pada Tuhan dan berdo'a untuk kebaikanmu dan kebaikanku. Kalau suatu hari nanti kamu kembali membaca semua ini, aku ingin kamu tahu, aku pernah ...

HARI KELIMABELAS

Aku sempat tidak menulis tentangmu kemarin. Bukan karena lupa… tapi karena semalam mataku sudah mengantuk, dan tertidur. Hehe. Mungkin terlalu lelah memikirkanmu, ehe. Di saat aku tidak menuliskan apa-apa, justru rindu itu tetap ada. Tidak berkurang, tidak juga hilang.  Hari ini, aku kembali menulis. Dan jujur, aku masih merindukanmu. Rindu yang sederhana. Rindu pada obrolan kecil kita. Rindu pada caramu membuat hal biasa terasa berbeda. Rindu lelucon darimu, yang selalu bisa mengobati laraku. Kadang aku ingin bercerita banyak hal, seperti dulu. Tapi sekarang aku hanya bisa menyimpannya,lalu menyebut namamu dalam doa. Aku tidak tahu kamu sedang seperti apa di sana. Apakah kamu baik-baik saja, apakah kamu sempat mengingatku, atau mungkin kamu sedang terlalu fokus dengan langkahmu sampai lupa melihat ke belakang. Dan aku tidak ingin mengganggu itu. Karena aku tahu, kamu sedang mengejar sesuatu yang lebih besar dari sekadar rindu kita. Di satu sisi, aku ingin kamu ada. Di sisi lain, a...

HARI KETIGABELAS

 Hari ini aku mencoba satu hal yang sederhana: tidak terlalu memikirkanmu. Aku sibukkan diri dengan banyak hal, mencoba mengisi hari dengan kegiatan yang biasanya cukup untuk membuatku lupa. Dan untuk beberapa saat… berhasil. Aku merasa sedikit lebih ringan. Sedikit lebih tenang. Tapi ternyata, mengalihkan pikiran itu tidak sesederhana yang aku kira. Ada saja momen kecil yang tiba-tiba membawaku kembali padamu. Hal-hal yang sebenarnya biasa, tapi entah kenapa terasa berbeda sekarang. Kadang dari lagu yang tiba-tiba lewat. Kadang dari obrolan ringan yang mengingatkanku pada caramu bercanda. Atau bahkan dari hal sepele yang dulu pernah kita bahas. Lucu ya… aku sudah berusaha tidak mengingat, tapi justru di momen yang tidak terduga, namamu datang begitu saja. Aku cuma bisa senyum kecil, sambil bilang ke diri sendiri, “oh… ternyata masih sejauh ini ya.” Tapi tidak apa-apa. Mungkin memang seperti ini prosesnya. Bukan langsung lupa, tapi pelan-pelan belajar menerima bahwa ada seseorang y...

HARI KEDUABELAS

Hari ini… aku nggak tahu kenapa, rindu datang lagi tanpa permisi. Padahal kemarin aku merasa sudah lebih tenang. Sudah mulai terbiasa dengan sepi yang pelan-pelan aku pelajari. Tapi hari ini berbeda. Rasa itu datang lagi, diam-diam, lalu menetap. Aku bahkan tanpa sadar memutar ulang video kamu… berkali-kali. Seolah dari sana aku bisa merasa sedikit lebih dekat. Seolah jarak ini bisa dipersingkat, walau hanya lewat layar kecil di tanganku. Lucu ya… yang dulu terasa biasa saja, sekarang jadi sesuatu yang aku cari-cari. Aku tersenyum sendiri, lalu tiba-tiba diam. Rindu memang aneh. Dia tidak selalu datang dengan air mata. Kadang dia datang hanya dengan keheningan yang terasa lebih dalam dari biasanya. Aku nggak tahu kamu di sana sedang apa. Sedang sibuk, lelah, atau mungkin bahkan tidak sempat memikirkan hal-hal seperti ini. Semoga kamu baik baik saja disana. Hari ke-12 ini mengajarkanku satu hal: ternyata merindu dalam diam itu tidak mudah. Tapi tidak apa-apa. Aku akan tetap menjalaninya...

HARI KESEBELAS

Hari ini aku sadar, menunggu itu bukan tentang waktu. Tapi tentang bagaimana hati bertahan di antara ragu dan harap. Sudah sebelas hari, dan aku masih ada di titik yang sama antara bertahan… atau perlahan menyerah. Kadang aku meyakinkan diri, kalau semua ini akan baik-baik saja. Kalau kamu akan kembali, dengan cerita yang lebih tenang, dengan perasaan yang tetap sama. Tapi di waktu yang lain, aku juga takut. Takut kalau ternyata kamu tidak kembali seperti yang aku bayangkan. Takut kalau di sana, di tempat yang jauh dari jangkauanku, kamu menemukan dunia baru… dan seseorang yang lebih pantas ada di sampingmu. Pikiran itu sederhana, tapi rasanya tidak. Karena setiap kali aku mencoba melepaskan, ada bagian dari hatiku yang masih ingin menunggu. Aku merindukanmu. Bukan hanya tentang pesan atau suara, tapi tentang rasa nyaman yang pernah ada. Aneh ya… bagaimana seseorang yang datang tanpa rencana, bisa meninggalkan ruang kosong yang cukup terasa. Aku tidak tahu harus memilih apa. Bertahan d...

HARI KESEPULUH

Sudah genap sepuluh hari tanpa kabar darimu. Sepuluh hari yang terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan karena waktunya yang melambat, tapi karena aku terbiasa mendengar kabarmu, walau hanya lewat pesan sederhana. Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu di sana sekarang. Apakah kamu baik-baik saja, apakah kamu sedang lelah, atau justru sedang tersenyum menjalani apa yang kamu perjuangkan. Yang aku tahu, aku hanya bisa berharap… semoga kamu sehat, semoga kamu kuat, dan semoga setiap langkahmu selalu Allah jaga. Di sini, tidak banyak yang berubah. Aku masih dengan perasaan yang sama. Masih ada rindu yang datang tanpa permisi, masih ada harapan yang belum sepenuhnya aku lepaskan. Kadang aku bertanya dalam diam, apa kamu juga sempat mengingatku? Atau mungkin kamu sedang terlalu fokus mengejar tujuanmu sampai tidak sempat melihat ke belakang. Aku mencoba mengerti. Aku belajar menerima bahwa tidak semua yang kita rasakan harus selalu diungkapkan. Ada hal-hal yang cukup disimpan dalam doa, tanpa ...

HARI KESEMBILAN

Hari ini sebenarnya biasa saja. Tidak ada kabar baru, tidak ada hal yang benar-benar berbeda. Tapi entah kenapa, ada satu momen kecil yang membuatku tersenyum sendiri. Tiba-tiba ibu bertanya tentang kamu. Bukan pertanyaan yang dalam, bukan juga sesuatu yang serius. Ibu cuma bilang, “Dek, mana foto si mas itu? ibu mau lihat.” Aku sempat diam sebentar, lalu senyum. Lucu ya… padahal ibu tidak pernah bilang kangen. Tapi dari cara beliau bertanya, rasanya seperti ada yang ikut merindukan tanpa perlu mengucapkan. Mungkin karena selama ini aku sering sekali menyebut namamu di rumah. Hampir setiap hari ada saja ceritaku tentang kamu. Tentang hal kecil, tentang candaan, bahkan tentang hal-hal yang kadang tidak penting. Dan tanpa sadar, kamu juga jadi bagian dari cerita di rumah ini. Aku tidak tahu apakah kamu akan membaca ini atau tidak. Tapi kalau kamu tahu, mungkin kamu akan tersenyum juga. Bahwa di sini, ada seseorang yang diam-diam merindukan… dan ada satu rumah kecil yang pernah mengenal n...

HARI KEDELAPAN

Sudah delapan hari tanpa kamu. Delapan hari belajar tidak mencari namamu di notifikasi. Delapan hari menahan diri untuk tidak bertanya, “kamu baik-baik saja, kan?” Lucu ya… ternyata delapan hari bisa terasa panjang ketika seseorang sudah menjadi bagian dari rutinitas kecil dalam hidupmu. Aku tidak marah. Tidak juga menyesal. Aku hanya sedang belajar menata rindu supaya tidak berubah menjadi ego. Karena aku tahu, di sana kamu sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar perasaan. Kadang aku membayangkan kamu sedang sibuk, serius, mungkin lelah. Dan di sela-sela itu, aku berharap ada satu detik saja di mana kamu ingat bahwa ada seseorang yang diam-diam mendoakanmu agar semua berjalan lancar. Aku masih di sini. Bukan untuk menuntut. Bukan untuk memaksa. Hanya untuk memastikan bahwa perasaanku tetap tumbuh dengan cara yang baik. Kalau kamu bertanya apakah aku merindukanmu, jawabannya iya. Tapi rindu ini tidak ingin mengganggu langkahmu. Ia hanya ingin menjadi doa yang pelan....

HARI KETUJUH

 Hari ini sudah hari ketujuh. Lucu ya, baru tujuh hari, tapi rasanya seperti sudah belajar banyak tentang sepi. Aku mulai terbiasa tidak melihat namamu muncul di layar. Tapi jujur saja, ada satu hal yang diam-diam mulai menggangguku. Bagaimana kalau kamu tidak kembali? Bukan karena kamu jahat. Bukan karena kamu lupa. Tapi karena hidup mempertemukanmu dengan seseorang yang lebih baik dariku di sana. Seseorang yang mungkin lebih siap, lebih cantik, lebih tenang, lebih sejalan dengan langkahmu. Aku manusia. Aku bisa saja bilang aku percaya diri. Tapi tetap saja, ada sudut kecil dalam hatiku yang bertanya, “Apa aku cukup?” Kadang aku berpikir, mungkin di tempat barumu nanti kamu akan menemukan perempuan yang tidak banyak ragu, yang tidak pernah kehilangan kepercayaan, yang lebih pantas mendampingi seseorang dengan tujuan sebesarmu. Dan aku? Aku hanya perempuan yang pernah takut kehilanganmu. Tapi di tengah semua pikiran itu, aku mencoba mengingat satu hal: kalau memang Allah menuliskan...

HARI KEENAM

Hari ini hari keenam tanpa dirimu. Dan hari ini juga aku bertambah usia.. Pagi tadi aku memutar lagi pesan suaramu. Ucapan sederhana itu “barakallah fii umrik yaa… semoga kamu panjang umur, sehat selalu, jadi perempuan sholihah yang berbakti kepada orangtua.” Kalimat yang mungkin terdengar biasa, tapi entah kenapa pagi ini terasa berbeda. Lebih pelan. Lebih dalam. Tahun ini memang baru pertama kalinya aku mengenalmu. Tidak panjang, belum lama. Tapi cukup untuk membuat namamu terselip di antara doa-doaku. Aku sempat berharap… andai hari ini kamu ada di sini. Bukan untuk hal besar. Hanya untuk duduk sebentar, mengucapkan doa itu secara langsung, lalu tersenyum seperti biasa. Tapi hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kecil kita, ya? Hari keenam mengajarkanku sesuatu. Bahwa rindu bisa hadir bersamaan dengan kedewasaan. Bahwa menunggu bukan berarti berhenti hidup. Dan bahwa mencintai seseorang juga berarti memberi ruang pada takdir untuk bekerja. Aku tidak tahu bagaimana dua bulan i...

HARI KELIMA

Hari ini hari kelima tanpa kabarmu. Aneh ya, baru lima hari tapi rasanya seperti sudah lebih lama. Aku masih sesekali refleks membuka ponsel, berharap ada namamu muncul di layar. Padahal aku tahu, aku yang harus belajar menahan diri. Aku tidak marah. Hanya sedang belajar menata rindu supaya tidak berubah jadi resah. Sekarang setiap kali aku pergi ke suatu tempat, atau sedang melakukan hal-hal kecil seperti biasa, tiba-tiba aku membayangkan… kalau kamu ada di sini bagaimana ya? Kalau kamu melihat ini, kamu bakal komentar apa? Kalau kamu berjalan di sampingku, apa aku akan lebih banyak tersenyum? Hal-hal sederhana jadi terasa berbeda hanya karena bayanganmu ikut hadir di pikiranku. Di sela-sela kesibukan, aku juga ingat caramu berbicara tentang cita-citamu. Tentang bagaimana kamu ingin menjaga sesuatu yang kamu yakini. Dan setiap kali aku mengingat itu, sedihku sedikit mereda. Karena kalau jarak ini adalah bagian dari perjalananmu menjadi lebih baik, aku tidak ingin mengeluh terlalu kera...

HARI KEEMPAT

Hari ini hari keempat kamu tidak ada kabar. Aku mulai belajar menghitung waktu bukan dari jam, tapi dari rasa. Empat hari tanpa suaramu ternyata lebih panjang dari yang kubayangkan. Semalam aku memimpikanmu. Aku lupa detailnya seperti apa. Aku hanya ingat perasaan hangatnya. Dalam mimpi itu rasanya kamu dekat, tidak sejauh sekarang. Dan anehnya, ketika aku bangun, aku tersenyum. Seolah rinduku diberi sedikit obat, walaupun hanya sementara. Lucu ya, ternyata mimpi bisa jadi pengganti kabar. Tapi hari ini juga aku mulai berpikir lebih tenang. Bukan tentang rasa rinduku saja, tapi tentang kita. Tentang jalan yang mungkin berbeda arah. Tentang keyakinan, tentang lingkungan, tentang bagaimana dua orang yang sama-sama punya niat baik… belum tentu berjalan dengan cara yang sama. Aku tidak ingin membesar-besarkan hal yang belum tentu terjadi. Aku juga tidak ingin terburu-buru menilai. Tapi aku belajar satu hal akhir-akhir ini, mencintai bukan berarti menutup mata dari pertanyaan. Aku ingin men...

HARI KETIGA

Hari Ketiga Tanpa Kabar Hari ini hari ketiga kamu benar-benar menghilang dari layarku. Tidak ada notifikasi. Tidak ada suara. Tidak ada lagi pertanyaan “lagi apa?" Ternyata sesunyi ini rasanya. Aku tidak marah. Aku juga tidak ingin mengeluh. Aku hanya sedang belajar menata rindu agar tidak berubah menjadi prasangka. Kadang tanganku refleks ingin membuka chat terakhir kita. Membaca ulang pesanmu. Meyakinkan diri bahwa ini bukan perpisahan, hanya jeda. Tapi jeda pun bisa terasa panjang ketika hati sudah terbiasa dengan kehadiran. Lucu ya, dulu aku pikir aku biasa saja. Tidak akan terlalu terikat. Ternyata sekarang, tiga hari saja sudah cukup membuatku berbicara pada langit lebih lama dari biasanya. Aku tidak tahu kamu sedang apa saat ini. Aku hanya berharap kamu baik-baik saja. Semoga langkahmu lancar. Semoga niatmu dijaga. Semoga hatimu tetap tenang. Aku masih rindu. Tapi aku sedang belajar sabar. ... Hari ketiga. Masih setia menunggmu. -AN

HARI KEDUA

Hari kedua tanpa kabar darimu. Hari ini tidak lagi terasa aneh seperti kemarin. Justru terasa lebih nyata. Aku mulai sadar, ini bukan jeda satu dua hari. Ini benar-benar waktu yang harus dijalani pelan-pelan. Tadi tanpa sadar aku hampir membuka chat kita, seperti biasa. Lalu aku ingat… untuk sementara, tidak ada yang akan masuk. Dan di situ aku belajar satu hal kecil, menahan diri juga bagian dari mencintai. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan hari ini. Apa kamu lelah, apa kamu sempat tersenyum, apa kamu juga pernah berpikir tentangku sebentar saja, apa kamu juga rindu padaku. Tapi anehnya, meski tidak tahu apa-apa, aku tetap ingin mendoakanmu. Bukan dengan doa yang memaksa agar kamu kembali lebih cepat. Tapi doa yang sederhana: semoga harimu baik, semoga langkahmu ringan, semoga apa yang kamu perjuangkan mendekatkanmu pada cita-citamu. Hari kedua ini aku mulai mengerti, menunggu bukan tentang memastikan kamu tetap milikku. Menunggu adalah tentang memastikan hatiku tetap tenang...

HARI PERTAMA

Hari pertama tanpa kabar darimu. Aneh rasanya. Sunyi, tapi tidak sesakit yang dulu kubayangkan. Mungkin karena sejak awal aku sudah tahu, cepat atau lambat hari ini pasti datang. Hari di mana aku harus belajar tidak menunggumu lagi, tidak mendengar suaramu. Aku tidak ingin menghitung berapa lama kamu pergi. Karena kalau dihitung, dua bulan bisa terasa panjang sekali. Aku hanya ingin belajar percaya… bahwa jarak bukan tanda kehilangan, dan diam bukan berarti berhenti peduli. Kalau dulu aku berdoa agar kita tidak dipisahkan, hari ini doaku sedikit berubah. Aku berdo'a pada Allah : “Kalau dia memang untukku, jaga dia di mana pun dia berada. Lindungi langkahnya, kuatkan niatnya. Dan jaga hatiku agar tetap tenang, tanpa prasangka, tanpa takut berlebihan.” Aku tidak sedang menggenggam erat. Aku juga tidak benar-benar melepas. Aku hanya menyerahkan. Karena yang benar-benar ditulis untuk kita tidak akan tertukar. Dan yang datang dengan niat baik, semoga selalu dijaga dalam kebaikan. Hari i...