HARI KESEPULUH
Sudah genap sepuluh hari tanpa kabar darimu.
Sepuluh hari yang terasa lebih panjang dari biasanya.
Bukan karena waktunya yang melambat, tapi karena aku terbiasa mendengar kabarmu, walau hanya lewat pesan sederhana.
Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu di sana sekarang.
Apakah kamu baik-baik saja, apakah kamu sedang lelah, atau justru sedang tersenyum menjalani apa yang kamu perjuangkan.
Yang aku tahu, aku hanya bisa berharap… semoga kamu sehat, semoga kamu kuat, dan semoga setiap langkahmu selalu Allah jaga.
Di sini, tidak banyak yang berubah.
Aku masih dengan perasaan yang sama.
Masih ada rindu yang datang tanpa permisi,
masih ada harapan yang belum sepenuhnya aku lepaskan.
Kadang aku bertanya dalam diam,
apa kamu juga sempat mengingatku?
Atau mungkin kamu sedang terlalu fokus mengejar tujuanmu sampai tidak sempat melihat ke belakang.
Aku mencoba mengerti.
Aku belajar menerima bahwa tidak semua yang kita rasakan harus selalu diungkapkan.
Ada hal-hal yang cukup disimpan dalam doa,
tanpa harus diketahui oleh siapa pun.
Menunggu tanpa kabar itu tidak mudah.
Ada hari di mana aku merasa kuat, ada juga hari di mana aku hanya bisa diam sambil menenangkan diri sendiri.
Tapi entah kenapa, hatiku belum benar-benar ingin pergi.
Bukan karena aku tidak mampu melepaskan, tapi karena aku masih percaya… bahwa apa yang Allah titipkan di hati ini, pasti ada alasannya.
Selama Allah masih memberiku rasa ini, aku akan menjaganya dengan cara yang paling sederhana, mencintai tanpa memaksa, menyukai tanpa harus memiliki, dan menunggu tanpa banyak bertanya.
Aku tidak tahu sampai kapan perasaan ini akan tetap sama.
Aku juga tidak tahu apakah kamu akan kembali dengan cerita baru, atau justru tetap berjalan di jalanmu tanpa aku.
Tapi untuk sekarang…
aku masih di sini.
Dengan doa yang sama, dengan harapan yang aku jaga pelan-pelan, dan dengan perasaan yang masih sama.
-AN
Komentar
Posting Komentar