Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Malam Takbir

Malam ini suara takbir terdengar di mana-mana. Langit terasa lebih tenang, angin malam terasa berbeda. Entah kenapa, di tengah suasana seperti ini, aku malah kembali mengingatmu. Padahal kemarin aku sudah mencoba menerima semuanya. Aku sudah mencoba memahami bahwa mungkin memang kita tidak lagi berjalan ke arah yang sama. Bahkan kamu juga sudah menyuruhku pergi dan melupakanmu. Tapi ternyata hati tidak semudah itu. Lucu ya, seseorang yang sudah meminta untuk dilupakan justru semakin sulit dilupakan. Aku sempat berpikir rasa kecewa dan lelahku akan lebih besar daripada rasa sayangku. Nyatanya tidak. Setelah semua tangis, marah, bingung, dan sakit itu berlalu, yang masih tinggal justru rasa peduli, rasa sayang yang masih sama. Malam ini aku kembali bertanya-tanya, kamu baik-baik saja tidak ya? Kamu sudah makan atau belum. Kamu capek tidak. Kamu sedang memikirkan apa sekarang. Hal-hal kecil seperti itu masih saja memenuhi kepalaku. Aku tahu mungkin setelah ini aku harus benar-benar belaja...

Bagian Ketiga - Jenuh

 “Akan ada saatnya, kau ingin menyendiri, menarik diri dari penatnya kehidupan ini. Bukan karena kau berputus asa, hanya saja kau sudah terlalu lelah." ~Ya Allah, Aku Pulang karya Alfialghazi Aku rasa, semua orang pernah ada di fase jenuh. Fase ketika hidup terasa terlalu ramai, terlalu berat, sampai rasanya ingin menghilang sebentar dari semuanya. Bukan karena tidak bersyukur. Bukan juga karena ingin menyerah. Tapi memang hati dan pikiran sudah terlalu lelah menjalani banyak hal sekaligus. Bagian ini terasa sangat dekat dengan kenyataan banyak orang. Tentang seseorang yang terus berusaha membangun mimpi, tapi kenyataan tidak kunjung datang sesuai harapan. Tentang seseorang yang berkali-kali mencoba bertahan, tapi malah semakin kehilangan arah. Dan jujur, bagian tentang “kehilangan tempat bernama rumah” itu terasa sangat dalam. Karena ternyata rumah bukan selalu tentang bangunan atau tempat tinggal. Kadang seseorang punya rumah, punya banyak orang di sekitarnya, tapi tetap merasa...

Bagian Kedua - Pillihan

  “Tidak ada kepastian dalam kehidupan kecuali kematian, sisanya kita yang memilih, menentukan jalan kita sendiri.” ~Ya Allah, Aku Pulang karya Alfialghazi Semakin dewasa, aku mulai sadar kalau hidup memang dipenuhi pilihan. Dan lucunya, kadang yang paling melelahkan bukan kenyataannya, tapi bagaimana kita terus memikirkan “bagaimana kalau” dari setiap keputusan yang diambil. Bagian Pilihan dari buku ini rasanya seperti mengingatkan kalau tidak semua orang akan mengerti isi kepala kita. Mereka mungkin hanya melihat hasil akhirnya, tanpa tahu bagaimana seseorang berjuang melawan pikirannya sendiri setiap hari. Kadang kita terlihat baik-baik saja, padahal di dalam diri sedang ada banyak pertimbangan yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah. Tentang memilih bertahan atau pergi. Memilih melepaskan atau memperjuangkan. Memilih mengikuti keinginan sendiri atau memenuhi harapan orang lain. Dan jujur, menentukan pilihan memang tidak pernah benar-benar mudah. Karena setiap pilihan selalu mem...

Bagian Perjalanan

"Dalam hidup, setiap manusia telah memiliki lajurnya masing-masing.” — Ya Allah, Aku Pulang karya Alfialghazi Bagian Perjalanan dari buku ini, aku merasa seperti sedang diingatkan kalau hidup memang tidak pernah benar-benar mudah untuk siapa pun. Semuanya sedang berjalan dengan caranya masing-masing, membawa luka, ketakutan, dan isi kepala yang mungkin tidak pernah diceritakan kepada orang lain. Semakin bertambah usia, ternyata hidup bukan jadi lebih ringan. Justru semakin banyak hal yang dipikirkan. Tentang masa depan, tentang mimpi yang belum tercapai, tentang rasa takut tertinggal dari orang lain. Kadang sampai capek sendiri karena terlalu sering membandingkan perjalanan hidup kita dengan hidup orang lain. Padahal setiap manusia sudah punya jalannya masing-masing. Ada orang yang dipercepat, ada yang diperlambat. Ada yang diuji lewat kehilangan, ada yang diuji lewat penantian. Dan sering kali kita menganggap hidup orang lain lebih tenang hanya karena tidak melihat apa yang mere...

Berakhir?

Maaf kalau saat ini aku menulis lagi. Mungkin ini adalah tulisan terakhirku tentangmu. Jujur, aku sudah mencoba menenangkan diriku sendiri dari tadi, tapi ternyata masih banyak hal yang ingin aku keluarkan pelan-pelan dari hati ini. Aku juga tidak tahu kenapa semuanya bisa terasa secepat ini. Padahal awalnya kita hanya dua orang asing. Aku ingin meminta maaf karena kamu menemukan aku di tempat yang tak seharusnya. Kamu datang saat hidupku sedang tidak baik-baik saja. Saat aku benar-benar rapuh. Saat aku sedang lelah dengan hidupku sendiri, saat hati terasa kosong, bahkan saat aku mulai merasa doa-doaku hanya menjadi sesuatu yang terus aku ulang tanpa benar-benar membuatku tenang. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh sebesar ini. Padahal waktu kita tidak panjang. Tapi entah kenapa, kamu berhasil mematahkan banyak sekali rasa takut dan raguku tentang cinta, tentang segala hal. Kamu datang dengan keseriusan yang membuatku percaya kalau aku masih layak dicintai. Dan mungkin itu k...

Afraid

Hari ini aku sadar, ternyata rasa sayang bisa tumbuh bersamaan dengan rasa takut kehilangan. Takut jika suatu hari keadaan berubah. Takut kalau ternyata aku tidak sebaik yang dibayangkan. Takut kalau pada akhirnya seseorang menemukan orang yang lebih tepat untuknya. Tapi semakin dipikirkan, aku juga sadar kalau manusia memang tidak pernah benar-benar bisa memastikan masa depan. Jadi untuk sekarang, aku hanya ingin menjalani semuanya pelan-pelan. Tidak memaksa untuk selalu bersama, tidak menuntut banyak hal, dan tidak menggantungkan seluruh kebahagiaan pada seseorang. Maaf ya kalau kehadiranku kadang membuat situasimu jadi terasa lebih berat. Dan terima kasih, karena di tengah semua kesibukan dan keadaanmu sekarang, kamu masih mau meluangkan waktu untukku walau hanya sebentar. Aku akan mencoba mengerti segala situasimu pelan-pelan. Karena sekarang aku tahu, mencintai seseorang juga berarti belajar memahami jalan yang sedang ia perjuangkan. Aku hanya ingin tetap mendoakanmu dari jauh, me...

Berbahagialah

Hari ini aku kembali belajar tentang rasa yang tidak bisa dipaksa pergi. Kamu bilang ingin kembali fokus dulu mengejar cita-citamu, aku mengerti… meskipun ada bagian kecil di hati ini yang masih ingin lebih lama. Tapi aku tidak ingin menjadi alasan yang membuat langkahmu tertahan. Karena kalau boleh jujur, aku lebih ingin melihatmu sampai di tempat yang kamu impikan, dengan hati yang ringan dan tanpa beban. Aku selalu ingin melihatmu bahagia. Ada atau tidak adanya diriku. Entah sejak kapan, rasanya jadi sesederhana ini… melihat kamu baik-baik saja sudah cukup menenangkan. Bahkan tanpa harus selalu dekat, tanpa harus selalu saling menyapa. Mungkin ini yang dinamakan cinta?  Ketika kebahagiaanmu terasa lebih penting daripada keinginanku sendiri. Jadi untuk sekarang, biarkan kita berjalan di jalan masing-masing dulu. Kamu dengan mimpimu yang sedang kamu kejar, dan aku di sini, menjaga perasaan ini dengan cara yang lebih tenang sambil berusaha juga mengejar cita-citaku. Tidak perlu ter...

Rindu lagi

Malam ini tiba-tiba terasa lebih sepi dari biasanya. Padahal pagi tadi kita sempat saling menyapa, bahkan sempat tertawa lewat suara yang sama. Harusnya cukup, kan? Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Entah kenapa, semakin malam… justru semakin terasa rindu yang datang pelan-pelan. Aku sempat ingin menghubungimu lagi. Mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya sebelum sempat terkirim. Bukan karena tidak ingin, tapi karena aku tahu… mungkin ini bukan waktu yang tepat. Kamu dengan kesibukanmu di sana, dengan hal-hal yang sedang kamu perjuangkan. Dan aku tidak ingin menjadi alasan kecil yang mengganggu langkah besarmu. Jadi malam ini, aku memilih diam. Bukan karena rindu ini berkurang, tapi justru karena aku sedang menjaganya dengan cara yang berbeda. Aku masih ingin menyapamu, masih ingin mendengar suaramu lagi, tapi aku juga ingin belajar, kalau tidak semua rasa harus langsung disampaikan. Kadang cukup disimpan dalam tulisan, seperti malam ini. Dan mungkin, di waktu yang tepat nanti, se...

Obat Rindu

Pagi tadi, kamu meneleponku lebih dulu. Kita berbincang untuk yang pertama kalinya setelah satu bulan berlalu. Katanya untuk mengobati rindu, tapi ternyata malah membuat rinduku bertambah. Aneh ya, suaramu yang menenangkan, membuat hati ingin lebih lama tinggal. Kita bebrincang seperti biasa, sederhana saja. Tapi entah kenapa rasanya tetap berbeda. Mungkin karena aku tahu, di balik percakapan singkat itu, ada jarak yang masih harus kita jalani. ... Setelah telepon itu selesai, aku sempat diam cukup lama. Bukan karena sedih, tapi lebih ke… banyak yang tiba-tiba aku pikirkan. Tentang kamu dengan cita-citamu yang besar, yang sedang kamu kejar pelan-pelan di sana. Dan tentang aku, yang masih belajar memahami diri sendiri, masih berjalan dengan langkah yang kadang ragu, kadang juga penuh tanya. Jujur, sempat terlintas rasa tidak percaya diri. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa jadi kecil di antara mimpi-mimpimu yang besar. Rasanya seperti, kamu berjalan jauh ke depan, sementara aku masih di...

Perasaanku?

Satu bulan tanpa kabar ternyata tidak membuat semuanya hilang. Justru aku jadi lebih paham, kalau beberapa hal memang tidak perlu dipaksa pergi… termasuk perasaan ini. Saat kamu bertanya padaku bagaimana perasaanku saat ini, apakah masih sama seperti saat itu. Aku sempat diam sebentar. Bukan karena ragu, tapi karena jawabannya terlalu jelas. Iya, aku masih. Tapi kali ini aku belajar sesuatu. Bahwa menyayangi seseorang tidak harus selalu memiliki. Tidak harus selalu dekat. Dan tidak harus selalu dipastikan arahnya sekarang juga. Aku masih dengan perasaan yang sama, menyayangimu, tapi aku tidak ingin memaksamu untuk tinggal. Kalau suatu hari kamu kembali, aku ingin itu karena kamu benar-benar memilih aku. Bukan karena rasa tidak enak, bukan karena merasa harus, tapi karena kamu ingin. Dan sampai hari itu datang, aku akan tetap di sini… bukan menunggu dengan terpaksa, tapi menjaga rasa ini dengan cara yang lebih tenang. -AN

SATU BULAN

Kalau suatu hari kamu membaca ini, mungkin kamu akan tahu bahwa ini tentang kamu. Tentang seseorang yang pernah membuatku percaya bahwa doa bisa terasa begitu dekat. Aku tahu tujuan hidupmu bukan hal kecil. Kamu ingin menjaga sesuatu yang baik, melangkah di jalan yang tidak semua orang sanggup jalani. Dan sejak awal aku sadar, aku tidak ingin menjadi alasan yang membuat langkahmu melambat. Kalau pun aku ada di sisimu, aku ingin hadir sebagai penguat, bukan pengalih. Jujur, membayangkan hari-hari tanpa kabarmu membuat hatiku mengecil sedikit. Bukan karena aku ragu, tapi karena aku sudah terbiasa mendengar suaramu, membaca pesanmu, merasakan kehadiranmu meski hanya lewat layar. Tiba-tiba harus belajar diam dan menunggu, itu bukan hal yang mudah. Dan kini, satu bulan terlewat tanpa kamu Jujur, rindu itu masih ada. Beberapa hari kemarin aku berdoa seperti ini, “Ya Allah… kenapa rindu ini masih Engkau izinkan singgah di hatiku? Kalau memang tidak ditakdirkan, kenapa perasaan ini masih Engka...