Bagian Perjalanan
"Dalam hidup, setiap manusia telah memiliki lajurnya masing-masing.”
— Ya Allah, Aku Pulang karya Alfialghazi
Bagian Perjalanan dari buku ini, aku merasa seperti sedang diingatkan kalau hidup memang tidak pernah benar-benar mudah untuk siapa pun. Semuanya sedang berjalan dengan caranya masing-masing, membawa luka, ketakutan, dan isi kepala yang mungkin tidak pernah diceritakan kepada orang lain.
Semakin bertambah usia, ternyata hidup bukan jadi lebih ringan. Justru semakin banyak hal yang dipikirkan. Tentang masa depan, tentang mimpi yang belum tercapai, tentang rasa takut tertinggal dari orang lain. Kadang sampai capek sendiri karena terlalu sering membandingkan perjalanan hidup kita dengan hidup orang lain.
Padahal setiap manusia sudah punya jalannya masing-masing.
Ada orang yang dipercepat, ada yang diperlambat. Ada yang diuji lewat kehilangan, ada yang diuji lewat penantian. Dan sering kali kita menganggap hidup orang lain lebih tenang hanya karena tidak melihat apa yang mereka sembunyikan.
Di bagian ini juga menjelaskan tentang suara-suara di kepala yang terus berbicara tanpa henti. Dan jujur, itu relate banget. Karena kadang musuh paling melelahkan bukan dunia luar, tapi pikiran kita sendiri. Pikiran yang membuat kita takut gagal, takut tidak berguna, takut tidak bisa menjadi apa-apa.
Sampai di titik tertentu, manusia cuma ingin “pulang”.
Bukan sekadar pulang ke rumah, tapi pulang ke tempat yang membuat hati terasa aman. Tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura kuat. Tempat di mana kita bisa berhenti sebentar dari kerasnya dunia.
Dan menurutku, itu alasan kenapa banyak orang tanpa sadar merindukan Allah ketika hidupnya sedang hancur. Karena sejauh apa pun manusia pergi mencari ketenangan, hati tetap akan merasa kosong jika terlalu jauh dari-Nya.
Aku juga suka bagian ini mengingatkan kalau hidup tidak selalu tentang bahagia. Akan ada kecewa, kehilangan, tangis, dan harapan yang tidak berjalan sesuai keinginan. Tapi semua itu memang bagian dari perjalanan manusia.
Mungkin selama ini kita terlalu fokus ingin cepat sampai, sampai lupa menikmati dan memahami perjalanan itu sendiri.
Padahal bisa jadi, justru di jalan yang melelahkan itulah manusia belajar tentang sabar, ikhlas, dan cara kembali kepada Allah.
Dan mungkin benar, tujuan dari perjalanan hidup bukan untuk menjadi manusia yang tidak pernah jatuh. Tapi menjadi manusia yang, setelah jatuh berkali-kali pun, masih mau mencoba berjalan dan kembali lagi kepada Tuhannya.
"Mari melangkah bersamaku, menyusuri setapak demi setapak jalan pencarian jati diri, semoga kau bisa temukan apa yang kau cari, atau paling tidak kau akan mengerti bagian sejatinya kehidupan ini. Aku akan temani sampai akhir." ~Ya Allah, Aku pulang
Komentar
Posting Komentar