Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Kabar duka darimu

Ketika pagi datang tanpa kabar bahagia, dan kabut kehilangan menyelimuti hatimu… aku tahu, tak ada kata yang cukup kuat untuk menghapus duka. Tapi izinkan aku menitipkan sebaris doa. Semoga Allah lapangkan hatimu, sebagaimana Dia melapangkan jalan hidupmu. Semoga engkau diberi kesabaran sebagaimana Nabi Ayyub diuji, dan diberi ketabahan sebagaimana Rasulullah saat kehilangan orang-orang tercintanya. Kehilangan memang bukan akhir, tapi jembatan untuk kita kembali mengingat hakikat dunia. Bahwa semua yang kita genggam tak pernah benar-benar milik kita. Dan semua yang kita cintai, pada akhirnya akan kembali pada Pemilik Cinta yang Abadi. Aku mungkin bukan siapa-siapa bagimu, tapi jika bisa, aku ingin memelukmu dengan doa. Doa yang diam-diam kupanjatkan dalam sujud, agar Allah kuatkan hatimu… dan agar surga menjadi tempat paling indah untuk orang yang kau cintai. Hari ini mungkin kamu kehilangan, tapi Allah… tidak pernah meninggalkan. Allah dan juga aku percaya, kamu kuat.

Saat Cerita Tak Lagi Punya Tokoh Utama

Aku terbiasa menulis denganmu dalam pikiranku. Kata demi kata seperti mengalir dari apa yang kau tinggalkan—sapamu, senyummu, bahkan kepergianmu. Tapi hari ini… jemari ini berhenti, kepala ini kosong. Bukan karena tak ada cerita, tapi karena tokoh utamanya tak lagi menetap di halaman ini. Kau datang tanpa skenario, membuat alur menjadi tak biasa, mengajarkanku rindu tanpa jeda, lalu hilang begitu saja tanpa penutup cerita. Kini aku belajar bahwa tidak semua kisah harus memiliki akhir yang indah. Ada yang cukup menjadi pengingat, bahwa pertemuan pun bisa menjadi bentuk ujian. Dan perpisahan... bisa jadi bentuk perlindungan. Aku tak lagi memaksakanmu masuk dalam bab-bab baru. Mungkin kau hanyalah paragraf singkat dalam hidupku—yang Allah tuliskan hanya untuk membentukku, bukan untuk menetap bersamaku. Dan saat aku kehilangan tokoh utama, aku sadar bahwa seharusnya dari awal… Tokoh utamanya adalah aku—yang sedang Allah arahkan, untuk mengenal-Nya lebih dalam, melalui setiap kehilangan yan...

07 April

Bismillahirrahmanirrahim.... Laa haulaa walaa quwwata Illa billah.... Hari ini, aku bersimpuh di atas sajadah. Mengusap pelan wajah yang basah oleh air wudhu dan doa-doa yang diam-diam kutitipkan sejak fajar. Hari ini… usiaku bertambah. Bukan tentang selebrasi, bukan tentang kue atau ucapan. Tapi tentang waktu… yang tak pernah berhenti berjalan, sementara aku masih terus belajar menjadi hamba yang lebih baik di hadapan-Nya. Ya Allah… Terima kasih telah membawaku sejauh ini. Dengan luka dan tawa, dengan kehilangan dan harapan, dengan jatuh dan bangkit yang terus Kau temani. Aku tahu, tak semua jalanku mulus. Tapi dalam setiap sesak, aku merasa dipeluk oleh kasih-Mu. Dalam setiap sepi, aku tahu… Kau tak pernah pergi. Aku belum menjadi versi terbaik dari diriku. Masih sering takut, masih mudah goyah. Tapi aku ingin tetap melangkah—meski perlahan. Aku ingin menjadi lebih ikhlas, lebih sabar, dan lebih berserah. Karena aku yakin, semua yang terjadi padaku adalah bagian dari takdir-Mu yang p...

Bukan tak ingin,,,

Ada kalanya hidup berjalan tak seperti harapan. Saat hati diuji, tubuh lelah, dan pikiran tak menentu. Mungkin itu yang sedang kamu rasakan kini. Aku tahu, aku bukan siapa-siapa. Bahkan untuk sekadar hadir dan menyapa pun aku tak punya keberanian. Tapi dari jauh, di tempat yang sama, aku sempat berharap kita dipertemukan. Walau hanya sekejap mata, sekadar memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Aku tidak datang, bukan karena tak peduli. Hanya saja, ada batas yang tak bisa kugenggam. Tapi sungguh, dalam diam, aku mendoakan. Semoga kamu kuat, semoga hatimu tetap lembut. Karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya sendiri dalam ujian. Mungkin aku hanya bisa menyemai doa, tak terlihat, tapi nyata. Dan semoga itu cukup sebagai bentuk perhatian yang tidak meminta balasan. Aku tahu, kamu sedang menahan banyak hal dalam diam. Tentang rasa cemas yang datang tiap kali mengingat sosok yang kamu cintai sedang terbaring lemah. Tentang lelah yang tak bisa kamu bagi karena kamu terlalu pandai menyimpa...

Untukmu yang sedang Rapuh

Ada saatnya hidup seperti hujan di musim kemarau—hadir tiba-tiba, membawa kesejukan, tapi juga menyisakan dingin yang menusuk. Aku tidak tahu pasti seberapa berat yang sedang kamu pikul saat ini, tapi aku tahu kehilangan tenaga untuk tersenyum itu nyata adanya. Aku ingin mengatakan bahwa kamu tidak sendiri. Mungkin aku bukan seseorang yang bisa berdiri di sisimu, menenangkanmu dengan kata-kata langsung, atau sekadar mendengar keluh kesahmu tanpa jarak. Tapi, dari kejauhan, aku berharap kamu tahu bahwa ada seseorang yang mendoakanmu dalam diam. Kesedihan yang kamu rasakan sekarang bukanlah pertanda kelemahan, tapi bukti bahwa hatimu hidup, bahwa kasih sayangmu begitu tulus. Jika berat, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan mengizinkan diri untuk merasa. Semoga kamu diberi ketabahan yang luas, seperti samudra yang tak pernah habis meski terus dihempas ombak. Semoga hatimu dikuatkan oleh keyakinan bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian tanpa sebab. Aku mu...