Saat Cerita Tak Lagi Punya Tokoh Utama
Aku terbiasa menulis denganmu dalam pikiranku.
Kata demi kata seperti mengalir dari apa yang kau tinggalkan—sapamu, senyummu, bahkan kepergianmu.
Tapi hari ini… jemari ini berhenti, kepala ini kosong.
Bukan karena tak ada cerita, tapi karena tokoh utamanya tak lagi menetap di halaman ini.
Kau datang tanpa skenario, membuat alur menjadi tak biasa, mengajarkanku rindu tanpa jeda, lalu hilang begitu saja tanpa penutup cerita.
Kini aku belajar bahwa tidak semua kisah harus memiliki akhir yang indah.
Ada yang cukup menjadi pengingat, bahwa pertemuan pun bisa menjadi bentuk ujian.
Dan perpisahan... bisa jadi bentuk perlindungan.
Aku tak lagi memaksakanmu masuk dalam bab-bab baru.
Mungkin kau hanyalah paragraf singkat dalam hidupku—yang Allah tuliskan hanya untuk membentukku, bukan untuk menetap bersamaku.
Dan saat aku kehilangan tokoh utama, aku sadar bahwa seharusnya dari awal…
Tokoh utamanya adalah aku—yang sedang Allah arahkan, untuk mengenal-Nya lebih dalam, melalui setiap kehilangan yang terasa menyakitkan.
.
.
.
Dan jika kamu, yang sedang membaca ini, pernah kehilangan tokoh utama dalam ceritamu… ingatlah bahwa mungkin Allah sedang mengajarkanmu bagaimana menjadi pemeran utama untuk dirimu sendiri.
Mungkin bukan dia yang harus menetap, tapi pelajaran dari pertemuan dengannya yang harus kamu bawa pulang, menuju bab baru yang lebih tenang—bersama Allah, sebaik-baik penulis cerita.
Komentar
Posting Komentar