Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Bolehkah aku?

 Jika aku boleh menjadi sesuatu, aku tak ingin menjadi cahaya paling terang. Cukup menjadi remang yang setia, yang ada saat kau mulai letih menatap silau dunia. Jika aku boleh menjadi tempat, aku tak ingin menjadi rumah paling megah. Cukup menjadi sudut kecil yang kau datangi, saat lelahmu tak bisa lagi kau sembunyikan. Aku tak ingin menjadi tanya yang membingungkan, cukup menjadi tenang dalam diam, yang mengerti tanpa perlu penjelasan. Bolehkah aku menjadi hujan rintik yang jatuh pelan-pelan? Tak deras, tapi menyapa hatimu dengan lembut. Tak memaksa, tapi tinggal sedikit lebih lama di pelupuk jendela. Bolehkah aku menjadi teduh yang tak kau sadari, tapi selalu kau cari saat langitmu mulai muram? Jika aku boleh, aku ingin menjadi namamu dalam doa yang tak pernah selesai. Bukan untuk memiliki, hanya untuk menjaga dari jauh dengan perasaan yang tak pernah gaduh, tapi selalu utuh.

Ruang Hening - Kesepian

Sepi. Kata yang terdengar sederhana, tapi memiliki kekuatan yang menghancurkan dari dalam. Sepi bukan hanya tentang tidak ada orang di sekitar. Kadang, meskipun ada banyak orang, hati ini tetap terasa hampa. Aku tidak tahu kapan perasaan ini mulai datang. Mungkin saat senyuman mulai terasa palsu, atau ketika suara tawa hanya menjadi kebisingan yang tidak mengisi kekosongan di dalam diri. Aku sering merasa sendiri, bahkan ketika dikelilingi orang-orang. Rasanya seperti ada tembok tak terlihat yang memisahkan aku dengan dunia. Sakit sendirian, sedih sendirian. Tidak ada yang benar-benar tahu, dan aku pun tak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Kadang aku ingin berteriak, ingin mengatakan pada dunia bahwa aku butuh didengar, tapi suara itu terjebak di dalam hati. Astaghfirullah, aku beristighfar, mencoba mengingat Allah, mencoba meraih ketenangan di tengah badai perasaan. Aku tahu Allah selalu ada. Tapi aku juga manusia, yang terkadang rapuh, yang terkadang merasa kehilangan arah. Mungkin...

Ruang Hening - Perasaan yang Terabaikan

Setiap orang punya cara mereka sendiri untuk berjuang. Ada yang terlihat kuat, ada yang diam dan bertahan. Aku berada di antara dua dunia ini. Sering kali, aku merasa seperti sebuah bayangan yang tak pernah benar-benar dilihat, meskipun aku berada di tempat yang seharusnya paling dekat denganku. Pernahkah kamu merasa seperti tidak dihargai, padahal kamu sudah berusaha sekuat tenaga? Aku sering merasakannya. Aku merasa seperti selalu harus mengalah. Ketika ada orang lain, aku merasa peranku tidak lebih dari sekadar penambah latar belakang. Ketika aku mencoba berbicara tentang apa yang kurasakan, seolah-olah aku sedang berbicara ke udara. Tapi saat orang lain bercerita, setiap kata yang keluar mendapat perhatian penuh. Aku tahu, mungkin aku bukan yang sempurna, bukan yang selalu bisa membanggakan. Tapi aku juga manusia, dengan perasaan yang tidak bisa terus-menerus dipendam. Aku merasa terjebak dalam peran yang sudah digariskan, terabaikan, bahkan ketika aku mencoba mengerti dan berkorba...

Ruang Hening - Tempat Paling Jujur

Ada satu tempat yang tak bisa dilihat siapa pun. Ia tak punya pintu, tak punya jendela, tak berbentuk ruang seperti pada umumnya. Tapi di sanalah aku merasa paling aman. Tempat itu aku sebut Ruang Hening. Bukan karena tempatnya benar-benar sunyi, tapi karena di sanalah aku tak perlu pura-pura kuat. Tak ada penilaian, tak ada tuntutan, tak ada kata "kamu harus begini". Hanya ada aku, dan Allah yang Maha Mendengar. Di Ruang Hening, aku bebas menangis tanpa suara. Bebas menyampaikan amarah tanpa takut dikira lemah, tanpa ada yang menghakimi. Aku sering duduk di sana, hanya dengan hati yang remuk, tangan yang gemetar, dan jiwa yang lelah. Kadang tak ada kata, hanya air mata. Tapi anehnya, justru di situlah aku merasa paling dimengerti. Orang-orang mungkin hanya melihat senyumku. Tapi mereka tak tahu, betapa sering aku kembali ke ruang ini. Karena hanya di ruang ini, aku benar-benar bisa menjadi diriku. Mungkin malam ini bukan akhir dari segalanya. Masih banyak yang belum bisa aku...