Bagian Ketiga - Jenuh
“Akan ada saatnya, kau ingin menyendiri, menarik diri dari penatnya kehidupan ini. Bukan karena kau berputus asa, hanya saja kau sudah terlalu lelah." ~Ya Allah, Aku Pulang karya Alfialghazi
Aku rasa, semua orang pernah ada di fase jenuh. Fase ketika hidup terasa terlalu ramai, terlalu berat, sampai rasanya ingin menghilang sebentar dari semuanya.
Bukan karena tidak bersyukur. Bukan juga karena ingin menyerah. Tapi memang hati dan pikiran sudah terlalu lelah menjalani banyak hal sekaligus.
Bagian ini terasa sangat dekat dengan kenyataan banyak orang. Tentang seseorang yang terus berusaha membangun mimpi, tapi kenyataan tidak kunjung datang sesuai harapan. Tentang seseorang yang berkali-kali mencoba bertahan, tapi malah semakin kehilangan arah.
Dan jujur, bagian tentang “kehilangan tempat bernama rumah” itu terasa sangat dalam.
Karena ternyata rumah bukan selalu tentang bangunan atau tempat tinggal. Kadang seseorang punya rumah, punya banyak orang di sekitarnya, tapi tetap merasa sendirian. Tetap merasa tidak punya tempat untuk benar-benar pulang.
Ternyata benar, kalau hidup memang tidak akan selalu berjalan sesuai keinginan kita. Akan ada masa ketika semuanya terasa kacau, doa terasa jauh, dan hati mulai mempertanyakan banyak hal.
“Kenapa hidup jadi seberat ini?”
Mungkin pertanyaan itu pernah diam-diam muncul di kepala banyak orang. Termasuk aku.
Dan seringnya, saat sedang di titik paling lelah, manusia baru sadar kalau dirinya terlalu lama mencari ketenangan di tempat yang salah. Berharap manusia bisa menyembuhkan seluruh luka, berharap dunia bisa memberi rasa aman yang utuh, padahal hati selalu punya ruang kosong yang tidak akan benar-benar penuh tanpa Allah.
Bagian akhir ini tentang bagaimana tempat pulang yang sebenarnya adalah Allah. Tempat di mana manusia bisa menangis tanpa harus terlihat kuat. Tempat di mana penyesalan, lelah, kecewa, semuanya bisa diletakkan begitu saja. Tanpa perlu khawatir.
Kadang manusia merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Padahal justru saat paling hancur itulah kita paling butuh bersimpuh di hadapan-Nya.
Dan mungkin benar, sejauh apa pun seseorang tersesat, hati tetap akan mencari jalan pulang. Karena pada akhirnya, setenang-tenangnya tempat kembali tetap hanyalah Allah.
Komentar
Posting Komentar