HARI KESEBELAS
Hari ini aku sadar, menunggu itu bukan tentang waktu.
Tapi tentang bagaimana hati bertahan di antara ragu dan harap.
Sudah sebelas hari,
dan aku masih ada di titik yang sama
antara bertahan… atau perlahan menyerah.
Kadang aku meyakinkan diri,
kalau semua ini akan baik-baik saja.
Kalau kamu akan kembali,
dengan cerita yang lebih tenang, dengan perasaan yang tetap sama.
Tapi di waktu yang lain,
aku juga takut.
Takut kalau ternyata kamu tidak kembali seperti yang aku bayangkan.
Takut kalau di sana, di tempat yang jauh dari jangkauanku,
kamu menemukan dunia baru… dan seseorang yang lebih pantas ada di sampingmu.
Pikiran itu sederhana, tapi rasanya tidak.
Karena setiap kali aku mencoba melepaskan,
ada bagian dari hatiku yang masih ingin menunggu.
Aku merindukanmu.
Bukan hanya tentang pesan atau suara,
tapi tentang rasa nyaman yang pernah ada.
Aneh ya…
bagaimana seseorang yang datang tanpa rencana,
bisa meninggalkan ruang kosong yang cukup terasa.
Aku tidak tahu harus memilih apa.
Bertahan dengan harapan yang belum pasti,
atau pergi sebelum terlalu dalam.
Tapi untuk sekarang,
aku masih di sini.
Masih belajar memahami perasaan sendiri,
masih belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa aku kendalikan.
Kalau kamu benar-benar kembali,
semoga aku masih punya hati yang sama untuk menyambutmu.
Dan kalau tidak…
semoga aku juga punya hati yang cukup kuat untuk merelakanmu.
Untuk saat ini,
aku hanya bisa melakukan satu hal
menyebut namamu dalam doa,
dengan harap yang pelan…
dan rindu yang belum benar-benar selesai.
-AN
Komentar
Posting Komentar