HARI KEDUA
Hari kedua tanpa kabar darimu.
Hari ini tidak lagi terasa aneh seperti kemarin.
Justru terasa lebih nyata.
Aku mulai sadar, ini bukan jeda satu dua hari. Ini benar-benar waktu yang harus dijalani pelan-pelan.
Tadi tanpa sadar aku hampir membuka chat kita, seperti biasa. Lalu aku ingat… untuk sementara, tidak ada yang akan masuk. Dan di situ aku belajar satu hal kecil, menahan diri juga bagian dari mencintai.
Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan hari ini.
Apa kamu lelah, apa kamu sempat tersenyum, apa kamu juga pernah berpikir tentangku sebentar saja, apa kamu juga rindu padaku.
Tapi anehnya, meski tidak tahu apa-apa, aku tetap ingin mendoakanmu.
Bukan dengan doa yang memaksa agar kamu kembali lebih cepat.
Tapi doa yang sederhana: semoga harimu baik, semoga langkahmu ringan, semoga apa yang kamu perjuangkan mendekatkanmu pada cita-citamu.
Hari kedua ini aku mulai mengerti,
menunggu bukan tentang memastikan kamu tetap milikku.
Menunggu adalah tentang memastikan hatiku tetap tenang, apa pun akhirnya nanti.
Aku masih rindu.
Dan mungkin… dua bulan ini bukan hanya tentang kamu yang sedang mengejar mimpi.
Tapi juga tentang aku yang sedang belajar melepaskan rasa takut kehilangan.
Hari kedua, aku masih di sini.
Masih mendoakanmu.
Masih percaya, tanpa memaksa.
– AN 🤍
Komentar
Posting Komentar