HARI KEEMPAT
Hari ini hari keempat kamu tidak ada kabar.
Aku mulai belajar menghitung waktu bukan dari jam, tapi dari rasa. Empat hari tanpa suaramu ternyata lebih panjang dari yang kubayangkan.
Semalam aku memimpikanmu.
Aku lupa detailnya seperti apa. Aku hanya ingat perasaan hangatnya. Dalam mimpi itu rasanya kamu dekat, tidak sejauh sekarang. Dan anehnya, ketika aku bangun, aku tersenyum. Seolah rinduku diberi sedikit obat, walaupun hanya sementara.
Lucu ya, ternyata mimpi bisa jadi pengganti kabar.
Tapi hari ini juga aku mulai berpikir lebih tenang. Bukan tentang rasa rinduku saja, tapi tentang kita. Tentang jalan yang mungkin berbeda arah. Tentang keyakinan, tentang lingkungan, tentang bagaimana dua orang yang sama-sama punya niat baik… belum tentu berjalan dengan cara yang sama.
Aku tidak ingin membesar-besarkan hal yang belum tentu terjadi. Aku juga tidak ingin terburu-buru menilai. Tapi aku belajar satu hal akhir-akhir ini, mencintai bukan berarti menutup mata dari pertanyaan.
Aku ingin mencintai dengan sadar.
Bukan hanya karena rindu, bukan hanya karena takut kehilangan.
Kalau kamu membaca ini suatu hari nanti, mungkin kamu tidak tahu betapa aku sedang belajar menenangkan diriku sendiri. Aku masih menyebut namamu dalam doa. Tapi sekarang doaku sedikit berbeda.
Bukan lagi, “jangan pisahkan kami.”
Melainkan, “kalau memang ini baik, tenangkan hatiku. Kalau tidak, kuatkan aku.”
Hari keempat ini aku masih di sini.
Masih menunggu.
Tapi juga mulai belajar berdiri tanpa bersandar sepenuhnya pada kabarmu.
-AN
Komentar
Posting Komentar