Mari saling memafkan

Ada kalanya luka datang bukan dari orang asing. Bukan pula dari mereka yang memang sejak awal tidak menyukai kita.

Justru yang paling menyakitkan adalah ketika rasa sakit itu datang dari orang yang selama ini berusaha kita jaga hatinya.

Orang yang perasaannya selalu kita pertimbangkan.

Orang yang tidak ingin kita kecewakan.

Orang yang selama ini kita pikir tidak akan menjadi alasan air mata kita jatuh.

Karena pada akhirnya, luka terdalam sering kali bukan berasal dari orang yang tidak kita kenal, melainkan dari orang yang kita percaya.

Mungkin itu juga yang membuat proses memaafkan terasa begitu berat.

Sebab yang harus kita terima bukan hanya rasa sakitnya, tetapi juga kenyataan bahwa orang yang melukai kita adalah orang yang tidak pernah kita bayangkan akan melakukannya.

Lalu hari-hari berjalan seperti biasa.

Orang lain melihat kita tersenyum, bercanda, dan menjalani hidup seperti biasanya.

Padahal ada banyak hal yang tidak mereka lihat.

Ada malam yang dipenuhi pikiran yang terus berputar.

Ada air mata yang sengaja disembunyikan.

Ada sesak yang sulit dijelaskan.

Ada pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban.

Dan di tengah semua itu, ada hati yang perlahan belajar untuk memaafkan.

Jujur saja, memaafkan terdengar jauh lebih mudah daripada menjalaninya.

Karena memaafkan bukan sekadar mengucapkan, "Aku memaafkanmu."

Terkadang memaafkan berarti menerima bahwa kejadian itu memang pernah terjadi.

Mengakui bahwa kita pernah terluka.

Mengakui bahwa kita pernah kecewa.

Mengakui bahwa ada bagian dari diri kita yang sempat hancur karenanya.

Namun tetap memilih untuk tidak hidup selamanya di dalam luka tersebut.

Aku pernah berpikir bahwa memaafkan berarti melupakan.

Padahal tidak selalu begitu.

Ada hal-hal yang tetap kita ingat, tetapi tidak lagi kita biarkan mengendalikan hidup kita.

Ada luka yang bekasnya masih ada, tetapi tidak lagi terasa sakit setiap kali disentuh oleh kenangan.

Karena ternyata memaafkan bukan tentang membenarkan kesalahan seseorang.

Memaafkan adalah melepaskan beban yang selama ini kita bawa sendiri.

Masa lalu memang tidak akan berubah hanya karena kita memaafkan.

Apa yang terjadi akan tetap menjadi bagian dari cerita hidup kita.

Tetapi mungkin, dengan memaafkan, kita bisa mengubah cara cerita itu berlanjut.

Kita tidak bisa memilih apa yang pernah terjadi pada kita.

Namun kita bisa memilih apakah luka itu akan terus tinggal di dalam hati, atau perlahan kita lepaskan.

Dan mungkin, memaafkan bukanlah kemenangan bagi orang yang menyakiti kita.

Melainkan hadiah yang kita berikan untuk diri sendiri agar bisa kembali hidup dengan lebih tenang.

Karena hidup sudah cukup berat tanpa harus terus membawa amarah ke mana-mana.

Pada akhirnya, kita semua pernah menjadi orang yang terluka.

Dan mungkin tanpa sadar, kita juga pernah menjadi orang yang melukai.

Maka sebelum waktu membuat jarak semakin jauh, sebelum ego membuat hati semakin keras, dan sebelum penyesalan datang karena semuanya terlambat,

mari kita saling memaafkan.

Bukan karena semua kesalahan telah hilang.

Bukan karena semua luka telah sembuh.

Tetapi karena hati yang penuh maaf selalu lebih ringan daripada hati yang penuh dendam.

Dan bukankah pada akhirnya, kita semua hanya manusia yang sedang berusaha menjalani hidup sebaik-baiknya? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Kedua - Pillihan