SATU BULAN
Kalau suatu hari kamu membaca ini, mungkin kamu akan tahu bahwa ini tentang kamu. Tentang seseorang yang pernah membuatku percaya bahwa doa bisa terasa begitu dekat.
Aku tahu tujuan hidupmu bukan hal kecil. Kamu ingin menjaga sesuatu yang baik, melangkah di jalan yang tidak semua orang sanggup jalani. Dan sejak awal aku sadar, aku tidak ingin menjadi alasan yang membuat langkahmu melambat. Kalau pun aku ada di sisimu, aku ingin hadir sebagai penguat, bukan pengalih.
Jujur, membayangkan hari-hari tanpa kabarmu membuat hatiku mengecil sedikit. Bukan karena aku ragu, tapi karena aku sudah terbiasa mendengar suaramu, membaca pesanmu, merasakan kehadiranmu meski hanya lewat layar. Tiba-tiba harus belajar diam dan menunggu, itu bukan hal yang mudah.
Dan kini, satu bulan terlewat tanpa kamu
Jujur, rindu itu masih ada. Beberapa hari kemarin aku berdoa seperti ini,
“Ya Allah… kenapa rindu ini masih Engkau izinkan singgah di hatiku? Kalau memang tidak ditakdirkan, kenapa perasaan ini masih Engkau izinkan hadir di hatiku. Tapi kalau memang masih ada harapan… tolong ya Allah, berikan aku kabar tentang dia. Sedikit saja tidak apa-apa.”
Dan entah bagaimana, di tengah rindu yang aku coba tahan, kabar itu datang. Sederhana, tapi cukup untuk menenangkan.
Kamu datang.
Lewat kata-kata yang sederhana, tapi entah kenapa terasa begitu berarti.
Aku tidak tahu ini awal dari sesuatu,
atau hanya jeda yang diisi sebentar untuk menenangkan hati.
Aku juga tidak ingin terburu-buru memberi makna lebih.
Karena sekarang aku sedang belajar, bahwa tidak semua yang hadir harus dimiliki, dan tidak semua yang dirindukan harus dikejar.
Tapi satu hal yang aku tahu, aku bersyukur.
Karena kamu baik-baik saja.
Aku masih di sini,
tidak menunggu dengan memaksa,
tidak juga pergi.
Aku hanya… menjaga rasa ini tetap pada tempatnya, dalam do'a.
Ada bagian kecil dalam diriku yang ingin sedikit egois.
Ingin berdoa, “Ya Allah, jangan pisahkan kami.”
Tapi di saat yang sama, aku juga belajar bahwa cinta yang baik bukan tentang memaksa untuk tetap bersama. Cinta yang baik adalah yang tetap mendoakan, bahkan ketika harus melepaskan dengan tenang.
Kalau memang kita ditakdirkan berjalan dalam satu cerita, semoga Allah mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang lebih siap, lebih matang, dan lebih tenang. Bukan karena takut kehilangan, tapi karena yakin.
Dan kalau ternyata jalan kita berbeda, aku ingin kamu tetap menjadi laki-laki yang teguh pada niat dan cita-citamu.
Aku mungkin tidak selalu kuat, tapi aku akan berusaha tetap baik.
Karena mencintaimu membuatku belajar satu hal, bahwa mencintai seseorang juga berarti menginginkan kebaikannya, bahkan jika kebaikan itu tidak selalu tentang kita.
Aku akan tetap menyebut namamu dalam doa.
-AN
satu hal yang kamu tahu. aku selalu menulis kata kata tentang kamu. hanya saja masih ku arsipkan rapi di dalam buku kecilku. bukannya aku tidak mau mempublisnya,hanya saja aku sedang berada di posisi yang kutrang tepat. mungkin suatu hari nanti,aku bakal tunjukan semuanya ke kamu dan menceritakannya semampu aku bercerita. dan aku ingin sekali bertemu dengan mu walaupun hanya sekali
BalasHapustetap konsisten ya. kata katamu selalu aku baca walaupun aku tidak memberitahumu