Untuk Kamu

Aku nggak tahu kamu akan pernah baca ini atau tidak.

Tapi kalau suatu hari kamu menemukannya, anggap saja ini aku yang sedang duduk di depanmu, berbicara pelan.

Kamu tahu nggak, rasanya aneh sekaligus indah ketika untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar dicintai. Bukan cuma sekadar kata-kata, tapi lewat doa, lewat cara kamu menyebut namaku dengan serius, lewat niat yang kamu ceritakan tentang masa depanmu itu.

Aku masih ingat bagaimana kamu bilang ingin menjaga kemurnian Qur’an dan hadits. Maa Syaa Allah. Setiap kali kamu bicara tentang itu, aku selalu melihat sisi kamu yang berbeda, yang tenang, yang punya tujuan. Dan jujur, di situlah aku belajar mencintai kamu dengan cara yang lebih dewasa. Bukan cuma ingin memiliki, tapi ingin melihat kamu sampai pada mimpimu.

Kalau nanti kamu benar-benar harus pergi tanpa kabar, mungkin aku akan merasa sepi. Aku pasti akan rindu. Tapi aku tidak ingin rindu itu berubah jadi beban untukmu. Aku ingin kamu fokus, melangkah tanpa merasa harus menoleh karena aku.

Aku pernah ingin sedikit egois. Ingin berdoa supaya kita tidak dipisahkan. Tapi semakin aku memikirkanmu, semakin aku sadar… kalau cinta itu bukan soal memaksa Allah mengikuti mauku. Cinta itu soal percaya bahwa apa pun yang Allah tulis, itu yang terbaik untuk kita.

Kalau memang kamu adalah takdirku, aku yakin jarak dan waktu tidak akan mengubah apa-apa.

Kalau bukan, aku tetap bersyukur pernah mengenalmu.

Karena lewat kamu, aku belajar satu hal yang penting: aku ternyata bisa mencintai dengan tulus tanpa harus kehilangan diriku sendiri.

Jadi pergilah dengan tenang mengejar cita-citamu.

Jangan khawatir tentang aku.

Aku akan tetap di sini, menjaga doaku… dengan lembut, tanpa paksaan.

Dan kalau suatu hari kita bertemu lagi dalam versi diri yang lebih siap, mungkin kita akan tersenyum dan berkata,

“ternyata ini memang takdir terbaik yang Allah tetapkan untuk kita"


Dan sebelum aku benar-benar mengakhiri tulisan ini, aku cuma ingin kamu tahu satu hal…

Apa pun yang terjadi nanti, kamu pernah menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang membuatku percaya lagi bahwa dicintai dengan sungguh itu nyata.

Kalau kita ditakdirkan bersama, aku akan menyambutmu dengan hati yang sama, yang tidak pernah setengah-setengah.

Kalau tidak, semoga suatu hari nanti kamu tetap mengingatku sebagai perempuan yang pernah mencintaimu dengan tenang, tanpa paksaan.

Aku tidak tahu bagaimana akhir cerita kita.

Tapi aku tahu, selama aku menuliskan ini, aku melakukannya dengan hati yang penuh dan tulus.

Dan mungkin… itu sudah cukup❤️

-AN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Afraid

SATU BULAN

Berakhir?