Sang Bulan dan Batu Karang
Aku sangat berterima kasih pada Allah, karena sudah mengirimkan kamu ke dalam kehidupanku.
Kamu seolah menjadi mentari yang terbit di tengah badaiku.
Cahayamu menciptakan biasan warna-warni yang begitu indah.
Seperti pelangi.
Namun, pelangi hanya sementara.
Sementara aku… inginnya kamu selamanya.
Kamu hadir di waktu yang tepat, saat aku mulai berdamai dengan diriku sendiri.
Meski dalam hatiku masih ada sedikit ragu.
Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiranku.
Aku tidak cukup percaya diri.
Kamu seperti lahir dari indahnya sang bulan, sedangkan aku dari batu karang yang terlalu sering dihantam ombak.
Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, kenapa waktu itu kamu mau berkenalan denganku?
Saat sudah kenal pun, kenapa kamu memilih untuk tetap bertahan?
Padahal aku tidak cantik, tidak begitu baik, dan banyak kekurangannya.
Aku yakin, kamu sebenarnya bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku.
Membuat aku jatuh cinta itu tidak sulit.
Yang sulit adalah membuat aku yakin bahwa aku benar-benar dicintai.
Banyak hal yang berubah sejak aku mengenal kamu.
Aku jadi lebih banyak tersenyum.
Apa kamu merasakan hal yang sama?
Tapi semakin lama, aku semakin takut.
Aku takut jatuh cinta padamu.
Aku takut suatu hari nanti, saat aku benar-benar menjatuhkan hatiku padamu, ternyata kamu hanya bermain-main dengan perasaanku.
Aku tidak siap terluka lagi.
Komentar
Posting Komentar