Ragu yang turut hadir

Aku tidak jatuh cinta padamu secara tiba-tiba. Aku hanya perlahan terbiasa dengan kehadiranmu dengan caramu menyapa, dengan namamu yang lebih sering muncul di layar, dengan perasaan kecil yang awalnya kuanggap biasa.

Tapi rasa memang jarang datang dengan suara gaduh.

Ia tumbuh diam-diam, di sela percakapan ringan, di balik perhatian yang tak pernah benar-benar berjanji.

Aku mulai menyukaimu saat aku tidak lagi menunggu pesan dari siapa pun selain darimu.

Saat satu notifikasi darimu lebih bermakna dari banyak kata orang lain.

Dan di situlah ragu mulai ikut hadir.

Karena aku tidak tahu apakah aku istimewa bagimu, atau hanya satu dari banyak orang yang kamu perlakukan dengan hangat.

Kadang kamu terasa dekat, kadang terasa jauh.  Kadang aku merasa dipilih, dang aku sadar mungkin aku hanya sedang berada di waktu yang tepat saat kamu butuh teman bicara.

Aku ingin percaya, tapi aku juga takut berharap terlalu jauh.

Aku terlanjur suka.

Dan menyukai seseorang tanpa kepastian itu seperti berjalan di tepi laut saat malam, indah, tapi aku tidak tahu seberapa dalam langkah berikutnya.

Aku tidak menuntut apa pun darimu.

Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri, bahwa perasaan ini ada, meski aku harus menyimpannya sendirian.

Mungkin suatu hari nanti aku akan tahu jawabannya.

Atau mungkin aku hanya akan belajar melepaskan rasa ini dengan cara perlahan.

Untuk sekarang, aku memilih diam di antara suka dan ragu, menjaga hatiku agar tidak jatuh terlalu jauh pada seseorang yang blum tentu siap menampungnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Afraid

SATU BULAN

Berakhir?