Kau dengannya

Kamu adalah nyala api yang memperjuangkan seseorang dengan segenap cahaya, sedangkan aku hanyalah bara kecil yang berusaha tidak padam saat melihatmu menyinari yang lain.

Kamu melangkah seperti matahari menuju cakrawala, teguh, hangat, penuh daya, sementara aku hanya bayangan senja yang belajar menerima bahwa indahku hanya sebentar.

Aku tidak marah, bagaimana bisa?

Cintaku padamu tak mengenal murka.

Aku justru berjuang untuk menenangkan dadaku sendiri, agar tidak runtuh saat setiap tatapmu selalu berlari pada dirinya.

Kamu memperjuangkan dia dengan segenap jiwa, dan aku memperjuangkan diriku agar tetap tenang, seperti laut yang menyembunyikan gelombang meski di dalamnya badai bergemuruh.

Kamu adalah bunga yang mekar di taman orang lain, sedangkan aku hanyalah embun yang jatuh di tanah kering, berharap sekali saja kau menyadari keberadaanku.

Namun, meski tak pernah kamu lihat, aku tetap bersyukur sempat ada di bawah langit yang sama denganmu.

Maka biarlah, aku memilih mencintaimu dengan cara paling sunyi.

Tanpa memaksa, tanpa mengusik, hanya dengan menjaga diriku agar tetap baik-baik saja, meski hatiku retak melihatmu memperjuangkan cinta yang bukan untukku.

Karena bagiku, cinta bukan tentang memiliki, melainkan tentang merelakanmu menemukan bahagia, meski aku hanya penonton bisu yang belajar ikhlas di tengah luka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian Kedua - Pillihan