Bunga Liar
Di padang rumput yang luas, setiap malam seekor burung kecil bernyanyi dengan nada lembut yang menembus hening. Suaranya seperti aliran sungai yang tenang, menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya. Bunga liar di dekat rerumputan menatap ke arah nada itu, diam, tapi hatinya bergetar lembut. Setiap detik suara burung itu hadir, dunia di sekitarnya seakan berhenti sejenak hanya ada dia, suara itu, dan malam yang membungkus mereka dalam rahasia yang tak terlihat.
Kadang bunga itu berharap, entah dalam khayal atau doa kecilnya, agar burung itu menoleh, sekadar menyadari keberadaannya. Tapi ia sadar diri, dirinya hanyalah bunga liar di antara ribuan bunga lain yang tak terlalu diperhatikan. Burung itu memikat, selalu dikelilingi perhatian, dan siapa bunga kecil sepertinya dibandingkan dunia yang luas ini?
Namun keindahan cinta tak selalu membutuhkan balasan. Bunga itu memilih membiarkan hatinya tenggelam dalam nyanyian, membiarkan setiap nada meresap, membuatnya tersenyum, berdebar, dan merasa hidup. Bahkan jika burung itu tak pernah benar-benar menoleh, bunga itu tetap diam-diam jatuh cinta, jatuh cinta pada getar nada yang lembut, yang membuatnya merasa begitu berarti, meski hanya untuk dirinya sendiri.
Di bawah sinar bulan dan rintik angin malam, bunga itu tersenyum sendiri, menyadari satu hal: mencintai bisa menjadi seni. Seni menikmati setiap detik, setiap getar hati, dan setiap suara yang membuat dunia terasa lebih indah. Kadang, cukup mendengar dan merasa, sudah cukup untuk membuat hati terbang, meski hanya dalam rahasia yang ia simpan sendiri.
Komentar
Posting Komentar