Aku yang menanam, aku yang terluka

Mungkin pada akhirnya, bukan dunia yang paling kejam padaku.

Bukan takdir, bukan keadaan, bukan orang-orang di sekitarku. Tapi aku.

Aku yang tahu ini menyakitkan, tapi tetap bertahan.

Aku yang sadar sedang tersesat, tapi menolak berpaling.

Aku yang menyimpan luka, lalu menyembunyikannya di balik senyum tipis.

Aku yang memilih diam, berharap diam adalah bentuk dari kekuatan.

Nyatanya, diam itu seperti kuburan.

Pelan-pelan aku dikubur di dalamnya, hidup-hidup, dengan harapan-harapan kosong yang kugenggam erat, padahal sudah lama retak.

Tak ada yang memaksaku. Tak ada yang menyeretku.

Aku sendiri yang menuliskan skenario ini, dengan tangan yang sama yang menghapus air mata tiap malam.

Dengan hati yang sama yang berkata “nggak apa-apa” meski jelas terasa ada yang hancur di dalam.

Kadang, kita terlalu sibuk menyelamatkan orang lain, sampai lupa menyelamatkan diri sendiri.

Kita terlalu sering terlihat kuat, sampai lupa bagaimana caranya jujur saat lemah.

Aku ingin sembuh, sungguh. Tapi dulu aku pikir sembuh itu tentang kembali seperti dulu.

Ternyata tidak. Sembuh itu adalah tentang menerima bahwa “dulu” tidak akan kembali, dan belajar mencintai “yang sekarang” — meski masih luka, meski masih rapuh.

Sekarang aku paham, bahwa yang paling menyakitkan bukan ketika orang lain melukaiku,

tapi saat aku sadar bahwa aku sendiri yang membuka pintu untuk semua itu terjadi.

Aku belajar perlahan. Bahwa maaf itu bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri.

Bahwa berhenti berharap orang datang menyelamatkan bukan berarti putus asa, tapi bentuk dari menerima: bahwa kali ini, aku harus bangkit dengan tanganku sendiri.

Jadi jika suatu hari aku terlihat kuat, percaya saja, itu bukan karena aku sudah sembuh.

Tapi karena aku sudah berhenti menunggu penyelamat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Afraid

SATU BULAN

Berakhir?