Ruang Rindu
Aku tak pernah meminta rasa ini hadir. Ia datang begitu saja, pelan-pelan, tanpa suara. Bukan karena kedekatan, bukan karena kebersamaan, tapi karena cara yang berbeda—cara yang tak terjelaskan, yang hanya bisa dirasakan dalam diam.
Aku rindu, tapi bukan rindu yang memaksa. Bukan rindu yang harus diungkapkan, bukan rindu yang meminta balasan. Aku rindu dalam tenang, dalam doa yang kusematkan di antara sujud dan harapan.
Kau tetap seperti yang kukenal—seseorang yang tak banyak bicara, tapi tindakannya selalu berbicara lebih lantang. Seseorang yang membawa cahaya, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya. Aku melihatmu dari kejauhan, seperti biasa, tanpa harus kau tahu.
Dan entah mengapa, rindu ini selalu hadir saat kudengar suaramu, lirih dalam syair yang kau lantunkan. Ada ketenangan di sana, seolah setiap kata membawa makna yang lebih dalam, menghadirkan kehangatan yang tak bisa kugambarkan.
Tapi aku tahu, rasa ini bukan untuk dituntut. Maka biarlah ia tetap di sini, tetap menjadi hal baik yang kusimpan dalam hati. Aku tidak meminta untuk lebih dekat, tidak berharap untuk kau sadari. Aku hanya ingin menjaganya dengan cara yang paling benar—dengan doa yang kupanjatkan dalam sunyi.
Karena jika memang ada takdir di antara kita, Allah yang akan menuntunnya. Dan jika tidak, semoga rasa ini tetap menjadi pengingat bahwa rindu yang paling indah adalah rindu yang tidak melampaui batas.
Komentar
Posting Komentar