Jejak Cinta Tanpa Suara
Aku terlahir diantara kasih yang tak bersyarat, dalam rumah yang dipenuhi doa-doa tanpa suara dan tanpa dipinta. Sejak pertama kali mataku terbuka, sepasang tangan lembut telah menggenggamku, mengajarkanku arti cinta tanpa meminta balasan. Aku tumbuh dalam dekapan yang hangat, dalam tatapan penuh harap, dalam langkah-langkah yang mereka tempuh meski kaki mereka sendiri telah letih.
Apa, Ibu…
Aku melihat bagaimana waktu merambat di wajah kalian, menyematkan garis-garis kisah perjuangan yang tak terhitung. Aku melihat bagaimana kalian menukar mimpi pribadi dengan masa depanku. Lelah itu jelas, tapi senyum kalian selalu hadir, seolah dunia tak pernah memberatkan.
Kalian tak pernah meminta lebih, hanya ingin aku menjadi insan yang baik, yang berguna, yang tak melupakan hakikat hidup. Ilmu kalian mungkin tak tertulis di lembar ijazah, tapi hikmah yang kalian tanamkan mengakar kuat dalam hatiku.
Kini, aku semakin dewasa, tapi entah mengapa aku merasa justru semakin kecil di hadapan kalian. Aku belum menjadi anak yang membanggakan, belum mampu mengangkat lelah dari pundak kalian.
Aku ingin, sungguh ingin, membalas semua yang telah kalian berikan, meski kutahu, apa pun yang kulakukan takkan pernah cukup untuk menyamai luasnya kasih sayang kalian.
Maka, aku titipkan segalanya pada Dia yang Maha Menggenggam. Aku titipkan harapan-harapanku di sepertiga malam, kusebut nama kalian dalam sujud panjangku.
Ya Allah…
Ampuni dosa kedua orang tuaku, sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil. Lapangkan rezeki mereka, sehatkan tubuh mereka, dan jadikan setiap letih mereka sebagai pahala yang mengantarkan mereka ke surga-Mu.
Dan jika aku belum mampu membalas kebaikan mereka di dunia ini, maka izinkan aku menjadi kebanggaan mereka di akhirat kelak.
'Dengan izin-Nya, di tempat yang paling indah itu, mari kita bersama menjalani hidup yang abadi, Pak, Bu.'
Komentar
Posting Komentar