Mencintai dalam Do'a
Aku tak tahu bagaimana semuanya bermula. Hanya saja, ada sesuatu dalam caramu membawa diri yang membuatku terpaku. Bukan sekadar tutur katamu, bukan hanya langkahmu yang penuh keyakinan, tapi ada ketenangan dalam dirimu—sebuah cahaya yang membuatku diam, mengagumi dalam batas yang seharusnya.
Aku memperhatikanmu dari kejauhan, tanpa pernah berani mendekat. Bukan karena takut, tetapi karena aku tahu, jika rasa ini benar adanya, biarlah Allah yang menjaga. Aku tak ingin terburu-buru, tak ingin membiarkan hati ini terhanyut tanpa arah. Maka biarlah kekaguman ini kusimpan dalam diam, kudoakan dalam lirih, dan kuserahkan pada takdir-Nya.
Kau bukan sekadar sosok yang kukagumi, tapi juga pengingat bahwa kebaikan sejati datang dari keikhlasan. Bahwa keteguhan hati tak harus lantang, dan bahwa akhlak yang indah lebih bersinar daripada sekadar kata-kata. Aku melihat bagaimana kau mengulurkan tangan, memberi tanpa berharap kembali, dan menghadirkan kebaikan di tempat yang membutuhkannya.
Dan lalu ada suaramu…
Lirih namun menenangkan, mengalun dalam syair yang kau lantunkan dengan ketulusan. Seolah setiap kata yang kau ucapkan membawa ketenangan, menghadirkan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Aku mendengarnya dari kejauhan, tanpa perlu memanggil namamu, karena bagiku, cukup dengan mendengar suaramu, aku tahu bahwa kau ada.
Maka biarlah aku tetap seperti ini—mengagumi tanpa menuntut, menyukai tanpa melampaui batas, dan mendoakan tanpa harus kau tahu.
Karena jika memang ada takdir di antara kita, maka Allah yang akan menuntunnya. Dan jika tidak, semoga rasa ini tetap menjadi hal baik yang menuntunku pada yang lebih baik.
Komentar
Posting Komentar