Bunga
Di suatu taman yang luas, hiduplah sebuah bunga kecil dengan kelopak lembut berwarna cerah. Setiap hari, ia menatap ke atas, mengagumi awan yang melintas di langit biru. Awan itu begitu luas, bergerak bebas mengikuti arus angin, sementara bunga hanya bisa diam di tempatnya, berakar di tanah yang sama.
Kadang, awan datang dengan perlahan, melayang tenang dan menaungi bunga dari terik matahari. Saat itu, bunga merasa nyaman, seolah mendapat perlindungan yang menenangkan. Hembusan angin membawa kesejukan, embun jatuh menyegarkan tanah di sekitarnya. Bunga merasa beruntung, karena ada awan yang meneduhinya.
Tapi kemudian, awan mulai bergerak pergi. Mula-mula lambat, lalu semakin jauh, hingga akhirnya lenyap di cakrawala. Bunga menatap kepergian itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan—antara kehilangan dan harapan. Kini, sinar matahari kembali menyengat kelopaknya, angin tidak lagi terasa sejuk, dan ia hanya bisa bertahan sendirian.
Waktu berlalu, awan datang dan pergi tanpa janji. Kadang ia kembali membawa hujan yang menyuburkan tanah, memberikan kehidupan baru bagi bunga. Tapi di lain waktu, awan hanya singgah sebentar, sekadar meneduhkan, lalu menghilang lagi. Bunga tak bisa meminta awan untuk selalu di sana, karena awan punya jalannya sendiri.
Namun, lama-kelamaan, bunga mulai mengerti. Ia tidak bisa terus menunggu awan kembali. Ia punya akarnya sendiri yang menancap kuat di tanah, menopangnya agar tetap berdiri. Matahari yang dulu terasa menyakitkan ternyata juga membantu kelopaknya berkembang. Hujan yang datang tak selalu dari awan yang sama, tapi tetap memberi kehidupan.
Bunga tidak lagi takut jika awan datang dan pergi. Ia tetap mekar, tetap indah, dengan atau tanpa awan di atasnya. Karena ia tahu, keberadaannya di dunia ini tidak bergantung pada sesuatu yang tidak bisa ia genggam.
Komentar
Posting Komentar